BeritaSosial Masyarakat

Bocah SD di NTT Akhiri Hidup Diduga Tak Mampu Beli Buku dan Pulpen

Ruangkaji.id – Seorang siswa kelas 4 sekolah dasar berinisial YPS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal
dunia dan diduga kuat terkait tekanan ekonomi keluarga. Peristiwa ini berawal dari rasa putus asa korban
setelah tidak mampu membeli perlengkapan sekolah berupa buku dan pena dengan harga kurang dari
Rp10.000. Saat meminta uang tersebut, sang ibu menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki uang, yang
diduga menjadi pemicu tekanan emosional pada korban.

Keluarga korban tergolong masyarakat miskin, sehingga nominal uang yang kecil sekalipun sulit dipenuhi. Ibu
korban, MGT, bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Ia merupakan seorang janda yang harus
menafkahi lima orang anak. Untuk meringankan beban ekonomi, korban diminta tinggal bersama neneknya di
sebuah pondok sederhana.

Pada Kamis, 29 Januari 2026, tidak jauh dari pondok neneknya, YPS ditemukan meninggal dunia. Polisi
menduga korban mengakhiri hidupnya, dan di sekitar lokasi ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada
ibunya. Seorang saksi yang diperiksa polisi menyatakan bahwa korban ditemukan dalam keadaan sudah
meninggal saat saksi tersebut hendak pergi mengurus ternak di sekitar pondok nenek korban pada sekitar
pukul 11.00 WITA.

Peristiwa tersebut segera dilaporkan kepada warga setempat dan pihak kepolisian. Kasih Humas Polres
Ngada, Ibtu Benediktus R. Pisord, menyampaikan bahwa dugaan sementara mengarah pada bunuh diri. Meski
demikian, hingga Selasa, 3 Februari 2026, kepolisian masih terus melakukan pendalaman untuk memastikan
seluruh fakta yang terkait dengan kejadian ini.

Dalam keterangan terpisah, MGT menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, korban sempat
menginap di rumah bersama dirinya. Keesokan harinya, korban diantar ke pondok neneknya dengan bantuan
tukang ojek. Sebelum berpisah, MGT sempat memberikan nasihat terakhir kepada anaknya agar rajin
bersekolah dan menjelaskan kondisi ekonomi keluarga mereka.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irvani, menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan anakanak memikul beban hidup sendirian. Ia menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan,
termasuk perlengkapan belajar, harus menjadi tanggung jawab negara. Menurutnya, meninggalnya seorang
anak SD di NTT merupakan peristiwa yang sangat memilukan dan menjadi tamparan keras bagi semua pihak.
Ia juga mendesak orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar agar lebih peka terhadap kondisi mental anak.
Pernyataan serupa disampaikan oleh anggota DPR RI asal NTT, Andreas Hugo Pariera, yang menyebut
peristiwa ini sebagai tamparan bagi seluruh masyarakat dan sesuatu yang mengusik rasa kemanusiaan. Ia
meminta pemerintah daerah untuk serius menangani kondisi keluarga YPS agar kejadian serupa tidak
terulang di masa depan.

Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, menyampaikan rasa prihatin dan duka cita atas meninggalnya YPS. Ia
meminta agar peristiwa ini menjadi perhatian bersama, baik pemerintah pusat maupun daerah. Menurutnya,
pendampingan dan perlindungan terhadap keluarga yang membutuhkan harus diperkuat guna mencegah
kejadian serupa terjadi kembali.

 

Penulis: Aini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Copy link
Powered by Social Snap