BeritaGaya HidupKajianPendidikanReligiSosialTulisan

Terjebak FOMO Dan Estetika : Dilema Menjadi Muslimah Modern

Penulis
Ijlal Fikri Rasyidin (Ketua Umum PD IPM Labura)
Mahasiswa RPL Universitas Dr.Hamka

Di era digital, menjadi muslimah bukan lagi sekadar menjalankan kewajiban menutup aurat atau menjaga akhlak. Hari ini, menjadi muslimah seolah memiliki “standar baru” yang dibentuk oleh media sosial. Feed Instagram yang estetik, konten TikTok yang menarik, outfit yang mengikuti tren, hingga gaya hidup yang tampak produktif perlahan menjadi tolok ukur baru tentang seperti apa muslimah modern seharusnya tampil.

Tidak ada yang salah dengan tampil rapi, menjaga penampilan, atau mengikuti perkembangan zaman. Islam sendiri mengajarkan bahwa Allah mencintai keindahan. Namun, persoalan muncul ketika estetika mulai menggeser esensi, ketika syariat mulai disesuaikan dengan tren, dan ketika validasi manusia lebih diutamakan daripada rida Allah Swt.

Fenomena ini begitu mudah ditemui di ruang publik maupun media sosial. Tidak sedikit muslimah yang mengenakan hijab, tetapi pakaian yang dikenakan justru ketat dan membentuk lekuk tubuh. Rambut memang tertutup, tetapi fungsi pakaian sebagai penutup aurat yang longgar dan tidak menampakkan bentuk tubuh mulai kehilangan maknanya. Hijab akhirnya dipahami sebatas penutup kepala, bukan sebagai bagian dari tuntunan berpakaian secara utuh.

Hal serupa juga tampak pada tren olahraga lari yang semakin digemari. Menjaga kesehatan tentu merupakan bagian dari ikhtiar seorang muslim. Akan tetapi, di balik tren tersebut muncul budaya Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang populer. Tidak sedikit yang bergabung dengan komunitas lari karena ingin dianggap mengikuti gaya hidup sehat yang sedang menjadi tren, bukan semata karena kebutuhan menjaga kebugaran.

Yang menjadi perhatian bukanlah aktivitas olahraganya, melainkan cara sebagian muslimah berpakaian ketika melakukannya. Pakaian olahraga yang sangat ketat sering dipilih dengan alasan lebih nyaman atau memang sedang menjadi mode. Padahal, banyak muslimah lain yang membuktikan bahwa tetap mengenakan pakaian olahraga yang longgar, hijab yang nyaman, bahkan rok olahraga khusus muslimah tidak menghalangi mereka untuk berlari, mengikuti maraton, bahkan meraih prestasi. Mereka tetap aktif tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip syariat.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada sebagian muslimah yang mengenakan niqab atau cadar. Menutup wajah merupakan pilihan yang dihormati sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga diri. Namun, tidak sedikit pula yang kemudian menghias bagian mata dengan riasan yang mencolok, bulu mata yang tebal, atau eye makeup yang menarik perhatian. Di sinilah muncul ironi. Keinginan untuk menutup diri terkadang berjalan beriringan dengan keinginan untuk tetap menjadi pusat perhatian. Padahal, salah satu hikmah menutup aurat adalah menjaga kehormatan dan mengurangi daya tarik yang mengundang pandangan yang tidak semestinya.

Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya estetika kini tidak hanya memengaruhi cara berpakaian, tetapi juga cara seseorang memaknai identitas keislamannya. Tanpa disadari, pertanyaan “Apakah ini sesuai syariat?” perlahan tergeser menjadi “Apakah ini estetik?”, “Apakah ini sedang tren?”, atau “Apakah konten ini akan banyak ditonton?”

Media sosial memperkuat cara berpikir seperti ini. Keberhasilan sering kali diukur dari angka-angka di layar ponsel. Sebuah konten dianggap sukses ketika memperoleh ribuan likes, jutaan views, dibagikan berkali-kali, dan dipenuhi komentar yang memuji penampilan maupun gaya hidup pemilik akun. Akibatnya, banyak orang mulai mengejar validasi digital tanpa benar-benar menyadarinya.

Fenomena ini juga menyentuh sebagian muslimah. Konten hijrah, kajian, olahraga, OOTD muslimah, hingga aktivitas ibadah sering dikemas sedemikian rupa agar menarik algoritma media sosial. Tidak sedikit yang akhirnya lebih sibuk memikirkan pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan komposisi visual dibandingkan merenungi pesan yang ingin disampaikan. Bahkan, ada yang merasa kecewa ketika unggahannya sepi penonton, seolah nilai dirinya ikut menurun hanya karena jumlah views tidak sesuai harapan.

Budaya ini perlahan membentuk cara pandang baru bahwa eksistensi seseorang ditentukan oleh banyaknya pengikut, komentar, dan apresiasi dari warganet. Padahal, algoritma media sosial tidak pernah dirancang untuk mengukur kualitas iman maupun ketakwaan seseorang. Ia hanya mengukur seberapa menarik sebuah konten untuk terus ditonton.

Di sinilah FOMO bekerja dengan sangat halus. Ketika melihat kreator lain memperoleh jutaan penonton, kita terdorong membuat konten yang serupa. Ketika gaya berpakaian tertentu menjadi viral, kita merasa harus mengikutinya agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Ketika sebuah tren dipuji banyak orang, kita mulai menyesuaikan diri, meskipun terkadang harus mengorbankan prinsip yang sebelumnya diyakini.

Muslimah modern sejatinya bukanlah mereka yang paling cepat mengikuti tren, melainkan mereka yang mampu menyaring setiap tren dengan ilmu. Kemajuan zaman tidak pernah melarang seorang muslimah untuk berkarya, berprestasi, berolahraga, ataupun memanfaatkan media sosial. Namun, semua itu tetap membutuhkan kompas yang jelas, yaitu syariat Islam.

Islam tidak melarang keindahan, tetapi juga memberikan batasan agar keindahan tidak berubah menjadi tabarruj, yaitu berhias atau menampilkan diri secara berlebihan hingga menarik perhatian yang tidak semestinya. Demikian pula media sosial. Ia dapat menjadi ladang amal ketika digunakan untuk menyebarkan manfaat, tetapi juga dapat menjadi jebakan ketika digunakan semata-mata untuk mengejar popularitas dan pengakuan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri bukanlah “Berapa banyak likes yang saya dapatkan?” atau “Apakah konten saya masuk FYP?”, melainkan “Apakah apa yang saya lakukan mendekatkan saya kepada Allah?” dan “Apakah penampilan saya benar-benar mencerminkan nilai yang saya yakini?”

Di tengah dunia yang berlomba mengejar estetika, mungkin keberanian terbesar seorang muslimah justru adalah tetap berpegang pada prinsip, meski tidak selalu menjadi tren. Sebab, ukuran kemuliaan seorang muslimah tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, tingginya angka views, atau ramainya kolom komentar. Kemuliaan itu terletak pada ketakwaan, sesuatu yang tidak selalu tampak di hadapan manusia, tetapi tidak pernah luput dari penilaian Allah Swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Copy link
Powered by Social Snap