BeritaGaya HidupPendidikanSosial

Memutus Rantai Trauma Bukan Berarti Menghilangkan Semua Luka

Anak membutuhkan orang tua yang mampu mengoreksi tanpa melukai identitas dirinya. Sebab, anak
sebenarnya tidak sedang memberikan orang tua waktu yang sulit. Mereka sedang mengalami waktu yang
sulit.


Sering kali orang tua merasa anak menyusahkan atau membuat keadaan menjadi berat. Padahal, di balik
perilaku seorang anak, bisa saja ada kesulitan yang sedang mereka alami dan belum mampu mereka
ungkapkan.
Karena itu, tugas orang tua bukan membuat anak menjadi seseorang yang sama sekali tidak pernah
menghadapi badai. Orang tua justru perlu membantu anak memahami bahwa badai bisa terjadi dalam
kehidupan, tetapi mereka mampu melewatinya tanpa hancur. Mereka pernah berada dalam keadaan
sulit dan berhasil keluar dari sana.
Ketika memiliki anak, orang tua juga memiliki tanggung jawab terhadap perilakunya sendiri. Apa yang
dilakukan orang tua akan menjadi sesuatu yang dilihat dan berpotensi ditiru oleh anak.
Memutus trauma bukan berarti membuat anak tidak pernah merasakan luka. Memutus trauma adalah
membuat anak tahu bahwa ketika menghadapi sesuatu yang menyakitkan, ia tidak harus
menghadapinya sendirian.
Terkadang, hal yang paling menyakitkan bukan semata-mata rasa sakit yang dialami, melainkan perasaan
bahwa seseorang harus berjuang sendirian melewatinya.
Karena itu, ketika berbicara tentang parenting, bukan hanya bagaimana membesarkan anak. Lebih jauh,
parenting berkaitan dengan bagaimana membentuk seorang manusia yang kelak tahu cara mencintai

dirinya sendiri, mengelola emosi, menghadapi kegagalan, merespons penolakan, serta tetap mampu
bertahan ketika berada dalam kondisi lemah.
Dengan sudut pandang tersebut, parenting bukan sekadar tentang anak yang sedang dibesarkan hari ini.
Parenting juga berbicara tentang orang dewasa seperti apa yang akan tumbuh dari anak tersebut di
kemudian hari.
Parenting dapat diibaratkan sebagai proses menanamkan suara ke dalam pikiran anak. Seiring mereka
tumbuh dewasa, suara tersebut dapat menjadi bahasa yang mereka gunakan terhadap diri sendiri.
Misalnya, ketika seorang anak sering mendengar bahwa dirinya membuat ibunya lelah, anak dapat
menangkap pesan yang lebih dalam: bahwa dirinya adalah seseorang yang menyusahkan.
Begitu pula ketika seorang anak terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya selalu salah, ia dapat
mempercayai bahwa dirinya memang selalu gagal.
Dengan demikian, apa yang sering dikatakan kepada anak tidak berhenti sebagai perkataan sesaat.
Perkataan tersebut dapat ikut membentuk cara anak melihat dirinya sendiri ketika dewasa.
Hal inilah yang menjadi perhatian karena cara seorang anak melihat dirinya dapat berkaitan dengan
karakter yang berkembang dalam dirinya. Mendidik anak pada akhirnya bukan hanya membuat mereka
mengikuti aturan, tetapi juga membantu mereka mengenali siapa diri mereka.
Jika orang tua dapat mengubah cara mereka berbicara kepada anak, dampaknya tidak hanya berhenti
pada satu keluarga.
Orang tua sebenarnya tidak hanya sedang membesarkan seorang anak. Mereka sedang membangun
satu generasi di bawah mereka.
Anak yang tumbuh hari ini nantinya akan menjadi orang dewasa dan dapat memiliki anak-anaknya
sendiri. Karena itu, pola pengasuhan yang diterima hari ini berpotensi diteruskan ke generasi berikutnya.
Jika kesalahan dilakukan sejak awal dan luka terus diwariskan, siklus tersebut dapat berlanjut dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, tujuan pengasuhan bukan membuat anak takut kepada orang tua. Yang diharapkan adalah
anak dapat tumbuh dan merasa bahagia dengan dirinya sendiri.
Pembicaraan tentang parenting juga membawa satu kesadaran penting: tidak ada orang tua yang
sempurna.
Yang ada adalah orang tua yang mau terus belajar untuk semakin mengenal anaknya.
Setiap hari dapat membawa hal baru yang kemudian dipelajari dan dipraktikkan di rumah. Dengan
demikian, menjadi orang tua bukan sebuah peran yang selesai setelah seseorang memiliki anak. Proses
belajar tetap berjalan seiring anak bertumbuh.
Karena itu, pertanyaan yang penting adalah bagaimana orang tua dapat membantu seorang anak
tumbuh menjadi manusia yang mampu menghasilkan versi terbaik dari dirinya.
Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah orang tua terlalu fokus pada hasil akhir.

Mereka ingin anaknya sukses, sopan, keren, atau berkelas. Namun, cara mencapai hasil tersebut
terkadang justru menyerupai hubungan antara bos dan karyawan: anak harus mengikuti perintah dan
diatur sesuai keinginan orang tua.
Ketika anak tidak menurut atau tidak mengikuti perkataan orang tua, ia kemudian dianggap
membangkang.
Pola seperti ini dapat membuat anak memiliki luka yang tidak selalu mereka ungkapkan kepada orang
tua.
Karena itu, sebelum mengoreksi atau mengatur anak, penting untuk membangun hubungan dan koneksi
terlebih dahulu. Orang tua perlu memahami kekurangan dan kelebihan anak sebelum memberikan
koreksi.
Ada alasan mengapa hubungan dan rasa aman menjadi bagian penting dalam pengasuhan.
Ketika anak merasa tidak aman, otaknya dapat masuk ke kondisi bertahan atau
survival mode. Dalam
keadaan seperti itu, kemampuan anak untuk menerima proses belajar menjadi terganggu.
Artinya, ketika orang tua ingin anak belajar sesuatu justru pada saat anak sedang merasa terancam,
proses pembelajaran tersebut bisa tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Inilah sebabnya perubahan perilaku tidak selalu berarti anak benar-benar memahami kesalahannya.
Seorang anak mungkin terlihat berubah setelah dimarahi. Namun, perubahan tersebut bisa terjadi
karena ia takut kehilangan hubungan yang baik dengan orang tuanya, bukan karena ia benar-benar
memahami apa yang sedang diajarkan.
Bagi orang dewasa, dimarahi mungkin hanya terasa sebagai satu momen yang tidak menyenangkan.
Namun, bagi anak, orang tua adalah bagian yang sangat besar dari dunianya.
Ketika suara orang tua meninggi dan kemarahan muncul, anak tidak selalu memaknainya sekadar
sebagai, “Mama sedang marah.” Bagi anak, situasi tersebut dapat terasa seperti dunianya sedang tidak
aman.
Ketika merasa tidak aman, anak akan lebih berfokus pada bertahan daripada belajar.
Karena itu, ketika orang tua mengatakan, “Anakku kalau dibentak baru bisa diam,” diamnya anak tidak
selalu berarti bahwa ia sudah mengerti.
Jika hari ini anak dibentak dan besok kesalahan yang sama kembali terjadi, hal tersebut menunjukkan
bahwa anak mungkin belum benar-benar belajar dari kesalahannya.
Diam ketika dibentak dapat terjadi karena sistem saraf anak sedang mengalami kondisi
shut down. Anak
bisa berada dalam keadaan bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Sebaliknya, ketika orang tua berbicara dengan anak dalam kondisi yang nyaman, anak dapat lebih
mampu memahami bahwa apa yang disampaikan orang tuanya merupakan sesuatu yang diberikan demi
kebaikan dirinya.
Penulis:
Aini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Copy link
Powered by Social Snap