Enam Gunung Api Indonesia Erupsi Berdekatan, Gunung Sinabung Menjadi Perhatian Utama
Pada 31 Agustus 2026, tercatat enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dengan waktu yang
relatif berdekatan. Aktivitas vulkanik tersebut terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatera, Pulau
Jawa, Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku Utara.
Salah satu gunung api yang mendapat perhatian khusus adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Aktivitasnya menunjukkan peningkatan, dengan kolom abu vulkanik teramati membumbung tinggi dari
puncak. Peristiwa ini kemudian diikuti dengan peningkatan status gunung api menjadi level siaga.
Selain Sinabung, sejumlah gunung api lain juga mengalami erupsi pada tanggal yang sama. Gunung
Semeru di Jawa Timur tercatat mengalami empat kali erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 900
meter. Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ili Lewatolo di Lembata menunjukkan kolom abu hingga sekitar
700 meter.
Sementara itu, Gunung Ibu di Maluku Utara mengalami enam kali erupsi dengan kolom abu mencapai
sekitar 600 meter. Aktivitas erupsi juga tercatat di Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur serta
Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda.
Gunung Sinabung menjadi salah satu gunung yang mendapat perhatian paling besar. Pada pukul 10.17
WIB, teramati kolom abu vulkanik yang mencapai sekitar 3.500 meter. Abu berwarna hitam dengan
intensitas cukup tebal dan bergerak ke arah timur serta tenggara.
Peningkatan aktivitas tersebut menyebabkan status Gunung Sinabung naik menjadi level siaga. Kondisi
ini kemudian berdampak langsung terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung.
Dua desa yang berada di zona berbahaya harus menjalani proses evakuasi. Masyarakat di wilayah yang
masuk zona merah diminta mengikuti arahan keselamatan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.
Rekomendasi yang diberikan antara lain relokasi masyarakat yang berada dalam radius tiga kilometer
dari puncak. Selain itu, aktivitas masyarakat juga dilarang dalam radius sekitar 4,5 kilometer pada sektor
selatan hingga tenggara.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar, terutama di sungai-sungai yang berhulu di
Gunung Sinabung. Ancaman tersebut perlu diperhatikan sebagai bagian dari dampak lanjutan aktivitas
erupsi.
Aktivitas erupsi Gunung Sinabung tidak hanya berdampak pada masyarakat di sekitar gunung, tetapi juga
mengganggu aktivitas penerbangan di Sumatera Utara. Di Bandara Kuala Namu, sebanyak 55
penerbangan dibatalkan akibat dampak erupsi.
Sebanyak 2.451 warga juga telah dievakuasi dari kawasan yang dianggap berbahaya. Proses evakuasi
terhadap masyarakat dari dua desa tersebut masih berlangsung.
Demi keselamatan masyarakat maupun wisatawan, seluruh aktivitas wisata di sekitar Gunung Sinabung
untuk sementara dihentikan. Pembatasan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko akibat
peningkatan aktivitas vulkanik.
Munculnya erupsi di beberapa gunung api dalam periode yang berdekatan menimbulkan pertanyaan
mengenai apakah aktivitas satu gunung dapat memicu erupsi gunung lainnya.
Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, salah satu zona vulkanik paling aktif di dunia. Kondisi
geologi tersebut berkaitan erat dengan pertemuan dan pergerakan lempeng bumi yang membentuk
zona subduksi. Proses tektonik ini berperan dalam pembentukan magma dan aktivitas gunung api.
Indonesia sendiri memiliki sekitar 127 gunung api aktif. Dengan jumlah tersebut, aktivitas erupsi dapat
terjadi di berbagai wilayah dalam periode yang berdekatan.
Namun, terjadinya beberapa erupsi pada waktu yang hampir bersamaan tidak serta-merta berarti bahwa
satu erupsi menyebabkan gunung lainnya ikut meletus. Setiap gunung api memiliki karakteristik dan
sistem magma masing-masing.
Meski demikian, terdapat kemungkinan hubungan tertentu apabila gunung-gunung yang lokasinya
sangat berdekatan memiliki keterkaitan pada sistem atau saluran magma. Dalam kondisi tertentu,
aktivitas pada satu gunung dapat berpengaruh terhadap gunung lain yang berada di dekatnya.
Di tengah peningkatan aktivitas vulkanik, masyarakat di sekitar gunung api diminta tetap tenang
sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat harus mematuhi radius bahaya yang telah ditetapkan
oleh pihak berwenang dan tidak memasuki kawasan yang dilarang.
Ketika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk melindungi sistem
pernapasan. Perkembangan aktivitas gunung api juga perlu terus dipantau melalui informasi resmi dari
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, serta BPBD setempat.
Jika terdapat arahan evakuasi atau peningkatan status gunung api di wilayah tempat tinggal maupun
tempat beraktivitas, masyarakat diminta segera mengikuti instruksi tersebut.
Pada Selasa malam, Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Guguran lava pijar meluncur ke sektor
barat dan memicu munculnya titik api pada vegetasi di lereng atas wilayah Kabupaten Magelang.
Berdasarkan pemantauan BPPTKG, guguran lava terdeteksi dua kali menuju hulu Kali Krasak dengan
jarak luncur maksimum sekitar 1.800 meter. Sementara itu, guguran juga terdeteksi dua kali menuju hulu
Kali Sat atau Kali Putih, dengan jarak luncur maksimum sekitar 1.700 meter.
Material panas dari guguran tersebut memicu titik api pada vegetasi selama sekitar 15 menit di kawasan
hulu Sungai Senowo, Lamat, dan Blongkeng. Petugas memastikan api tidak merembet ke kawasan
Taman Nasional Gunung Merapi.
Hingga saat itu, aktivitas Gunung Merapi masih berada pada level 3 atau siaga. BPPTKG menyatakan
suplai magma masih berlangsung sehingga potensi awan panas dan guguran lava tetap dapat terjadi
sewaktu-waktu.
Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, juga kembali mengalami erupsi pada Selasa
dini hari. Berdasarkan pemantauan Pos Pengamatan Gunung Api Ibu, tercatat lima kali erupsi sepanjang
Selasa, 1 September.
Kolom abu vulkanik teramati mencapai ketinggian sekitar 300 hingga 500 meter di atas kawah utama
dengan intensitas sedang. Material abu terlihat bergerak condong ke arah timur laut akibat terbawa
angin.
Meskipun aktivitas tersebut tidak berdampak langsung terhadap permukiman, masyarakat dan
wisatawan tetap diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif.
Larangan tersebut juga berlaku hingga radius 3,5 kilometer secara sektoral pada arah bukaan kawah aktif
di bagian utara Gunung Ibu.
Untuk memahami seberapa serius fenomena tersebut, pembahasan kemudian dilanjutkan bersama
pakar geofisika dan vulkanologi, Surono.
Menurut Surono, masyarakat tidak perlu langsung mengkhawatirkan fakta bahwa enam gunung api
mengalami erupsi pada hari yang sama. Indonesia memiliki jumlah gunung api yang sangat besar. Sekitar
13 persen gunung api dunia berada di Indonesia, dengan 127 gunung api aktif.
Dengan jumlah tersebut, erupsi yang terjadi secara kebetulan dalam waktu bersamaan atau berdekatan
merupakan sesuatu yang masih dapat terjadi secara wajar.
Sebagai contoh, Gunung Ibu telah mengalami aktivitas erupsi secara berulang sejak awal tahun 2000-an,
termasuk erupsi yang menghasilkan abu. Masyarakat di sekitar Gunung Ibu dinilai sudah cukup
mengenal karakter gunung tersebut yang memang sering mengalami erupsi.
Karakter serupa juga dapat dilihat pada Anak Krakatau. Menurut penjelasan Surono, sebagian besar
gunung api di Indonesia merupakan gunung api yang relatif muda. Gunung-gunung tersebut masih
mengalami proses pembentukan tubuh sehingga aktivitas erupsi dapat menjadi bagian dari proses
pertumbuhan dan pembentukan tubuh gunung.
Namun, Gunung Merapi memiliki karakter yang berbeda. Setelah letusan tahun 2010, karakter aktivitas
Merapi dinilai berubah dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Salah satu hal yang menonjol adalah
status Gunung Merapi yang telah berada pada level siaga sejak 5 November 2020, sehingga status
tersebut telah berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Penulis: Aini

