Bukan Sekadar Menahan Lapar: Puasa Bisa Tingkatkan Konsentrasi
Banyak orang berdebat: apakah lebih fokus saat puasa atau setelah makan?
Faktanya, neuron kita—kecuali dalam kondisi diet ketogenik—sangat menyukai glukosa. Studi yang
dipublikasikan di jurnal Neuron menunjukkan bahwa kemampuan otak untuk mengkode informasi dari
lingkungan meningkat ketika tersedia cukup glukosa dalam darah. Artinya, kadar gula darah yang
memadai membantu kita berpikir lebih jernih dan memproses informasi dengan lebih baik.
Namun, di sisi lain, banyak orang merasa sangat fokus saat berpuasa. Mengapa? Saat kita makan, sistem
saraf bergeser ke mode parasimpatis—sering disebut “rest and digest.” Kondisi ini membuat tubuh lebih
rileks, bahkan mengantuk. Jika makan terlalu banyak, terutama karbohidrat berlebih, rasa kantuk dan
penurunan fokus sering terjadi.
Bayangkan fokus seperti kurva berbentuk U.
Di satu sisi, kadar glukosa rendah (puasa ringan) dapat meningkatkan kewaspadaan karena tidak ada
aktivasi parasimpatis berlebihan.
Di sisi lain, kadar glukosa yang cukup (tidak berlebihan) mendukung fungsi neuron secara optimal.
Strateginya bukan memilih salah satu secara ekstrem, melainkan mengombinasikan keduanya. Misalnya:
– Sesi kerja fokus pertama dilakukan saat puasa (dengan hidrasi dan elektrolit cukup).
– Makan secukupnya.
– Lanjutkan sesi fokus berikutnya tanpa makan berlebihan.
Tambahan penting: tunda konsumsi kafein 90–120 menit setelah bangun untuk mengoptimalkan ritme
adenosin alami tubuh.
Intinya, baik kondisi puasa maupun kenyang bisa mendukung fokus—asal dilakukan dengan strategi
yang tepat.
Penulis: Aini

